Hongkong, Kompas - Setelah 10 tahun mengikuti Kejuaraan Karate Asian Karatedo Federation Kadet dan Yunior, akhirnya Indonesia merebut medali emas untuk pertama kali. Muhammad Zhaki Firdaus (15) mendapat emas di kelas kadet kumite -63 kilogram putra setelah menaklukkan lawan tangguh dari Jepang, Nishimura Ken, 5-4, Kamis (5/8) di Ma On Shan Sports Centre, Hongkong. Indonesia juga menggaet tiga medali perunggu di kompetisi hari pertama untuk kadet ini. Perunggu diraih oleh Muhammad Rizki (15) di kelas -52 kg, Vina Aprilia (14) di kelas -47 kg, dan Sandy Firmansyah (14) di kelas -70 kg. Lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” yang untuk pertama kali berkumandang di Kejuaraan Asian Karatedo Federation mengundang haru. Perjalanan Zhaki memang mulus hingga sampai juara. Pada putaran pertama, ia mengalahkan karateka Thailand, Itsarangkul Na Ayuttaya Takayuki, 7-0, lalu menekuk atlet India, Mariyappan Aravind, 8-0. Zhaki cukup alot menghadapi karateka Kazakhstan, Muratkan Gabit, pada semifinal yang berakhir 1-1. Pada perpanjangan waktu satu menit, kedudukan berakhir 0-0. Zhaki menang dan melaju ke final setelah dua wasit memilih dia dan satu wasit memilih Muratkan.
”Kuncinya semangat dan percaya diri. Jangan minder dulu kalau lawan Jepang,” katanya, yang berhasil memancing Nishimura untuk terus menyerang hingga melakukan tiga kali pelanggaran dan diusir dari lapangan.
Pelatih Indonesia, Nilawati Daud, pun takjub dengan pencapaian Zhaki. ”Karena dia itu lembek, klemar-klemer. Kalau mukul pelan, sering saya marahi,” ujarnya.
Menurut Zhaki, ia memaksimalkan kelebihannya pada serangan tangan dan jarang sekali memakai kaki untuk menendang. ”Kalau kaki saya kurang, pakai tangan saja,” ujarnya.
Kurang sabar
Teknik bertanding tiga peraih perunggu Indonesia pun sebetulnya tidak terlalu senjang dibanding lawan-lawan mereka. Menurut pelatih Mursalim Bado’o, Vina, Sandy, dan Rizki kurang bermain dengan taktis.
”Kami kalah strategi dan terlalu emosional. Kurang sabar,” katanya.
Vina pun mengakui kritik yang dilontarkan Mursalim itu. ”Saya kurang sabar. Harusnya pas dapat poin satu tadi, saya jaga. Tetapi saya malah menyerang terus dan lawan menunggu,” ujar Vina.
Sandy juga merasa terlalu emosional saat bertanding. Bukannya minder melawan Jepang, sebaliknya ia begitu bersemangat. Akibatnya, ia kurang taktis. ”Ya, betul, kalau saya kurang sabar,” sahutnya.
Obati kecewa
Kemarin, Indonesia menurunkan delapan atlet kategori kadet dan empat di antaranya mendapat medali. Pencapaian satu emas sangat mengobati kekecewaan empat kadet yang tumbang.
Sementara itu, Iran masih membuktikan diri sebagai yang terkuat di hari pertama kemarin, dengan perolehan empat emas. Jepang berada di tempat kedua dengan dua emas, disusul Indonesia dan Kazakhstan masing- masing satu emas.
Jumat (6/8) ini akan dipertandingkan semua kategori kata kadet dan yunior untuk nomor perorangan maupun beregu pu- tra dan putri. (Susi Ivvaty dari Hongkong)
0 komentar:
Poskan Komentar