Medan, (Analisa). Institut Karatedo Nasional (Inkanas) mengukir sejarah dalam kejuaraan karate junior Asia 2010 di Hongkong, 5-8 Agustus. “Karateka PB Inkanas menyumbangkan 1 emas, 2 perak dan 4 perunggu dari 1 emas, 3 perak dan 5 perunggu yang direbut Indonesia,” ujar anggota Dewan Guru Pengurus Besar (PB) Inkanas H Hadismar M Noer di Medan, Kamis (12/8).
Keberhasilan Inkanas menyumbangkan medali emas, menurut Hadismar merupakan sejarah bagi perkaratean Indonesia, karena itu adalah medali emas pertama Tim Merah Putih di kejuaraan resmi Federasi Karate Asia (Asian Karatedo Federation=AKF)
“Ini buat pertama kalinya Indonesia merebut medali emas dalam kejuaraan resmi karate Asia itu,” ujar Hadismar yang termasuk salah satu ofisial yang diutus PB Inkanas dalam kejuaraan tersebut. Medali emas tersebut dipersembahkan karateka Inkanas asal DKI Jakarta, M Zaki Firdaus. Inkanas Sumut juga memberi kontribusi, dengan keikutsertaan M Rizky dan putri kandungnya Hadismar, Tiffany Hadi.
M Rizky menyumbangkan medali perunggu. Hal ini mengulang sukses yang pernah diukir seniornya Takashi Hadi dalam kejuaraan karate junior AKF di Kinabalu, Malaysia.
Tiffany, meski kali ini belum menyumbang medali, berhasil dua kali memetik kemenengan. Sukses karateka Inkanas dalam kejuaraan karate junior Asia 2010, merupakan bukti agenda pembinaan yang sudah dijalankan selama ini berjalan dengan baik.
Dukungan Kapoldasu
Dalam kesempatan itu, Hadismar menyatakan berterimakasih kepada Kapolda Sumut sebagai pembina Inkanas Sumut yang sebelumnya telah memberi motifasi dan melepas keberangkatan M Rizky dan Tiffany Hadi buat berlaga di Kejuaraan Asia di Hongkong.
Demikian pula, Ketua Umum Inkanas Sumut Ir H Umar Zunaidi Hasibuan, MM dan Ketua Bidang Organisasi Ir M Tobrani yang memberikan dukungan dan motifasi. “Dalam waktu dekat kami akan melakukan audensi kepada Kapoldasu buat melaporkan hasil yang telah diraih dalam kejuaraan AKF tersebut,” ujar sensei H Hadismar. Selain itu Inkanas Sumut, seusai Lebaran akan menggelar kejuaraan karate yang menurut rencana akan memperebutkan Piala Kapoldasu Irjen Pol Oegroseno. (fp)
INKANAS DKI JAKARTA
Portal Alternative Untuk Berita Seputar Karate
Jumat, 20 Agustus 2010
Kamis, 12 Agustus 2010
AKF X Hongkong : H3 Indonesia Raih Satu Medali Perak, Satu Perunggu
PBFORKi.org. Hari Ketiga Kejuaraan Karate Asia (the 10th AKF Junior & Cadet Karate Championship 2010), Hong Kong China. Tim Indonesia berhasil meraih satu medali perak di nomor Junior Kumite – 76 kg/putra melalui karateka (Jatim/Inkanas) Angga Laksana. Sementara itu medali perunggu diraih karateka Ariski Dwi Prastya (Jateng/Inkanas) di nomor Junior Kumite + 76 kg/putri.
Sampai dengan hari ini Sabtu, 7 Agustus 2010, Indonesia sudah mengumpulkan satu medali emas (M. Zhaki Firdaus Cadet Kumite – 63 kg/putra), Tiga perak (Rakha Agung S. Cadet Kata Perorangan putra, Eva Fitriani Setiawati Junior Kata Perorangan putri, dan Angga laksana Junir Kumite – 76 kg/putra), lima perunggu diraih (Muh. Riski Cadet Kumite – 52 kg Putra, Sandy Firmansyah Cadet Kumite – 70 Kg Putra, Vina Aprilia Cadet Kumite – 47 Kg Putri, Eva Fitria Setiawati ,Siti Maryan, dan Aty Rahmawati Junior Kata Beregu Putri, Ariski Dwi Prastya Junior Kumite + 76 kg/putri. (Fsaidi)
Sampai dengan hari ini Sabtu, 7 Agustus 2010, Indonesia sudah mengumpulkan satu medali emas (M. Zhaki Firdaus Cadet Kumite – 63 kg/putra), Tiga perak (Rakha Agung S. Cadet Kata Perorangan putra, Eva Fitriani Setiawati Junior Kata Perorangan putri, dan Angga laksana Junir Kumite – 76 kg/putra), lima perunggu diraih (Muh. Riski Cadet Kumite – 52 kg Putra, Sandy Firmansyah Cadet Kumite – 70 Kg Putra, Vina Aprilia Cadet Kumite – 47 Kg Putri, Eva Fitria Setiawati ,Siti Maryan, dan Aty Rahmawati Junior Kata Beregu Putri, Ariski Dwi Prastya Junior Kumite + 76 kg/putri. (Fsaidi)
Label:
International
AKF X Hongkong : Zaki Mengalahkan Karateka Jepang di Final
Hongkong, Kompas - Setelah 10 tahun mengikuti Kejuaraan Karate Asian Karatedo Federation Kadet dan Yunior, akhirnya Indonesia merebut medali emas untuk pertama kali. Muhammad Zhaki Firdaus (15) mendapat emas di kelas kadet kumite -63 kilogram putra setelah menaklukkan lawan tangguh dari Jepang, Nishimura Ken, 5-4, Kamis (5/8) di Ma On Shan Sports Centre, Hongkong. Indonesia juga menggaet tiga medali perunggu di kompetisi hari pertama untuk kadet ini. Perunggu diraih oleh Muhammad Rizki (15) di kelas -52 kg, Vina Aprilia (14) di kelas -47 kg, dan Sandy Firmansyah (14) di kelas -70 kg. Lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” yang untuk pertama kali berkumandang di Kejuaraan Asian Karatedo Federation mengundang haru. Perjalanan Zhaki memang mulus hingga sampai juara. Pada putaran pertama, ia mengalahkan karateka Thailand, Itsarangkul Na Ayuttaya Takayuki, 7-0, lalu menekuk atlet India, Mariyappan Aravind, 8-0. Zhaki cukup alot menghadapi karateka Kazakhstan, Muratkan Gabit, pada semifinal yang berakhir 1-1. Pada perpanjangan waktu satu menit, kedudukan berakhir 0-0. Zhaki menang dan melaju ke final setelah dua wasit memilih dia dan satu wasit memilih Muratkan.
”Kuncinya semangat dan percaya diri. Jangan minder dulu kalau lawan Jepang,” katanya, yang berhasil memancing Nishimura untuk terus menyerang hingga melakukan tiga kali pelanggaran dan diusir dari lapangan.
Pelatih Indonesia, Nilawati Daud, pun takjub dengan pencapaian Zhaki. ”Karena dia itu lembek, klemar-klemer. Kalau mukul pelan, sering saya marahi,” ujarnya.
Menurut Zhaki, ia memaksimalkan kelebihannya pada serangan tangan dan jarang sekali memakai kaki untuk menendang. ”Kalau kaki saya kurang, pakai tangan saja,” ujarnya.
Kurang sabar
Teknik bertanding tiga peraih perunggu Indonesia pun sebetulnya tidak terlalu senjang dibanding lawan-lawan mereka. Menurut pelatih Mursalim Bado’o, Vina, Sandy, dan Rizki kurang bermain dengan taktis.
”Kami kalah strategi dan terlalu emosional. Kurang sabar,” katanya.
Vina pun mengakui kritik yang dilontarkan Mursalim itu. ”Saya kurang sabar. Harusnya pas dapat poin satu tadi, saya jaga. Tetapi saya malah menyerang terus dan lawan menunggu,” ujar Vina.
Sandy juga merasa terlalu emosional saat bertanding. Bukannya minder melawan Jepang, sebaliknya ia begitu bersemangat. Akibatnya, ia kurang taktis. ”Ya, betul, kalau saya kurang sabar,” sahutnya.
Obati kecewa
Kemarin, Indonesia menurunkan delapan atlet kategori kadet dan empat di antaranya mendapat medali. Pencapaian satu emas sangat mengobati kekecewaan empat kadet yang tumbang.
Sementara itu, Iran masih membuktikan diri sebagai yang terkuat di hari pertama kemarin, dengan perolehan empat emas. Jepang berada di tempat kedua dengan dua emas, disusul Indonesia dan Kazakhstan masing- masing satu emas.
Jumat (6/8) ini akan dipertandingkan semua kategori kata kadet dan yunior untuk nomor perorangan maupun beregu pu- tra dan putri. (Susi Ivvaty dari Hongkong)
”Kuncinya semangat dan percaya diri. Jangan minder dulu kalau lawan Jepang,” katanya, yang berhasil memancing Nishimura untuk terus menyerang hingga melakukan tiga kali pelanggaran dan diusir dari lapangan.
Pelatih Indonesia, Nilawati Daud, pun takjub dengan pencapaian Zhaki. ”Karena dia itu lembek, klemar-klemer. Kalau mukul pelan, sering saya marahi,” ujarnya.
Menurut Zhaki, ia memaksimalkan kelebihannya pada serangan tangan dan jarang sekali memakai kaki untuk menendang. ”Kalau kaki saya kurang, pakai tangan saja,” ujarnya.
Kurang sabar
Teknik bertanding tiga peraih perunggu Indonesia pun sebetulnya tidak terlalu senjang dibanding lawan-lawan mereka. Menurut pelatih Mursalim Bado’o, Vina, Sandy, dan Rizki kurang bermain dengan taktis.
”Kami kalah strategi dan terlalu emosional. Kurang sabar,” katanya.
Vina pun mengakui kritik yang dilontarkan Mursalim itu. ”Saya kurang sabar. Harusnya pas dapat poin satu tadi, saya jaga. Tetapi saya malah menyerang terus dan lawan menunggu,” ujar Vina.
Sandy juga merasa terlalu emosional saat bertanding. Bukannya minder melawan Jepang, sebaliknya ia begitu bersemangat. Akibatnya, ia kurang taktis. ”Ya, betul, kalau saya kurang sabar,” sahutnya.
Obati kecewa
Kemarin, Indonesia menurunkan delapan atlet kategori kadet dan empat di antaranya mendapat medali. Pencapaian satu emas sangat mengobati kekecewaan empat kadet yang tumbang.
Sementara itu, Iran masih membuktikan diri sebagai yang terkuat di hari pertama kemarin, dengan perolehan empat emas. Jepang berada di tempat kedua dengan dua emas, disusul Indonesia dan Kazakhstan masing- masing satu emas.
Jumat (6/8) ini akan dipertandingkan semua kategori kata kadet dan yunior untuk nomor perorangan maupun beregu pu- tra dan putri. (Susi Ivvaty dari Hongkong)
Label:
International
AKF X Hongkong : Karateka INKANAS DKI, M.Zaki Rebut Emas
Konidki.com. Karateka asal DKI Jakarta, M Zaki secara meyakinkan merebut medali emas di kelas Kumite Kadet, setelah di final menghempaskan karateka asal Jepang dalam Kejuaraan Karate Asia Janior dan Kadet ke 10 yang berlangsung di Ma On Shan Sport Centre, NT Hongkong, Kamis (5/8).
Demikian informasi yang berhasil diterima Jakarta Sport dari Ketua Umum Pengprov Forki DKI Jakarta, Raja Sapta Ervian ketika dihubungi, Kamis. Menurut Ervian, sapaan akrab Raja Sapta Ervian, hasil yang dicapai karateka kadet DKI itu sekaligus sebagai sumbangsih daerah ini bagi dunia karate di tanah air umumnya.
''Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari salah seorang ofisial karate Indonesia di Hongkong, keberhasilan M. Zaki merupakan medali emas pertama untuk tim karate Indonesia. Mudah-mudahan tambahan medali akan bisa bertambah lagi dari karateka Indonesia lainnya,'' ujar Ervian yang mengaku menerima khabar itu dengan sukacita.
Ini sebuah bukti, pembinaan karate di DKI Jakarta cukup berjalan baik. Terutama pembinaan antara karateka junior dan senior berjalan seiring. Sehingga ke depannya diharapkan tidak ada gap antara atlet senior dan junior. Alih generasipun otomatis akan berjalan secara alamiah.
Kejuaraan karate asia kelompok junior dan kadet ke-10 di Hongkong, berlangsung dari 1-8 Agustus mendatang. Sebelumnya, panitia kejuaraan yang dituanrumahi federasi Karatedo Hongkong, China Ltd itu terlebih dahulu mengadakan seminar dan ujian bagi para wasit karate.
Untuk kelompok kadet, usia karateka yang bisa ikut bertanding berumur 14-15 tahun atau kelahiran 1 September 94 dan 31 Agustus 96. Sementara untuk junior rata-rata berusia di bawah 21 tahun. Kejuaraan yang berada di bawah organisasi Asian Karatedo Federation (AKF), mengikuti peraturan pertandingan yang dikeluarkan World Karatedo Federation. Termasuk dalam hal penggunaan alat pelindung seperti head guard maupun penggunaan pelindung kaki dan lainnya.
Perkembangan karate di Hongkong dinilai termasuk maju pesat. Sejak awal berdirinya 1974 lalu, sudah terdaftar 129 pusat-pusat latihan karate dari berbagai aliran perguruan. Antara lain yang berkembang di sana antara lain berasal dari aliran Gojuryu, Shitoryu, Wadoryu dan Shotokan.o mff
Demikian informasi yang berhasil diterima Jakarta Sport dari Ketua Umum Pengprov Forki DKI Jakarta, Raja Sapta Ervian ketika dihubungi, Kamis. Menurut Ervian, sapaan akrab Raja Sapta Ervian, hasil yang dicapai karateka kadet DKI itu sekaligus sebagai sumbangsih daerah ini bagi dunia karate di tanah air umumnya.
''Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari salah seorang ofisial karate Indonesia di Hongkong, keberhasilan M. Zaki merupakan medali emas pertama untuk tim karate Indonesia. Mudah-mudahan tambahan medali akan bisa bertambah lagi dari karateka Indonesia lainnya,'' ujar Ervian yang mengaku menerima khabar itu dengan sukacita.
Ini sebuah bukti, pembinaan karate di DKI Jakarta cukup berjalan baik. Terutama pembinaan antara karateka junior dan senior berjalan seiring. Sehingga ke depannya diharapkan tidak ada gap antara atlet senior dan junior. Alih generasipun otomatis akan berjalan secara alamiah.
Kejuaraan karate asia kelompok junior dan kadet ke-10 di Hongkong, berlangsung dari 1-8 Agustus mendatang. Sebelumnya, panitia kejuaraan yang dituanrumahi federasi Karatedo Hongkong, China Ltd itu terlebih dahulu mengadakan seminar dan ujian bagi para wasit karate.
Untuk kelompok kadet, usia karateka yang bisa ikut bertanding berumur 14-15 tahun atau kelahiran 1 September 94 dan 31 Agustus 96. Sementara untuk junior rata-rata berusia di bawah 21 tahun. Kejuaraan yang berada di bawah organisasi Asian Karatedo Federation (AKF), mengikuti peraturan pertandingan yang dikeluarkan World Karatedo Federation. Termasuk dalam hal penggunaan alat pelindung seperti head guard maupun penggunaan pelindung kaki dan lainnya.
Perkembangan karate di Hongkong dinilai termasuk maju pesat. Sejak awal berdirinya 1974 lalu, sudah terdaftar 129 pusat-pusat latihan karate dari berbagai aliran perguruan. Antara lain yang berkembang di sana antara lain berasal dari aliran Gojuryu, Shitoryu, Wadoryu dan Shotokan.o mff
Label:
International
AKF X Hongkong : PB Forki Kirim 26 Atlet
Jakarta (ANTARA News) - Pengurus Besar Federasi Karatedo Indonesia (PB Forki) memberikan pengalaman tanding kepada 26 atlet kadet dan junior dengan tampil dalam kejuaraan AKF X di Hongkong, 5-8 Agustus 2010.
"Para atlet kadet dan junior yang dipromosikan ke kejuaraan karate level Asia itu dijaring melalui Kejurnas. Dengan begitu prestasi yang dimiliki bisa ditingkatkan ke tingkat Asia," kata Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PB Forki, Djafar E. Djantang, di Jakarta, Sabtu.
Ia mengatakan, meski PB Forki saat ini sedang menempa atlet yang dipersiapkan ke SEA Games dan Asian Games, namun pembinaan lapis bawah tidak boleh berhenti ditengah jalan agar regenerasi berlangsung dengan baik.
Melalui pembinaan berkesinambungan kata Djafar, diharapkan jenjang prestasi yang dimiliki atlet junior dan senior tidak terlalu jauh.
Ia mengakui saat ini level Umar Syarif dengan juniornya cukup jauh, sehingga bila Umar tidak turun dalam pertarungan maka perolehan medali emas akan berkurang di SEA Games.
Djafar mencontohkan ketika Umar cedera dan tidak turun di SEA Games XXIV Thailand 2007 tim karate hanya membawa pulang dua medali emas, padahal di Filipina 2005 menyumbang lima medali emas bagi kontingen Merah Putih.
Atas pertimbangan itulah PB Forki menggalakkan pembinaan atlet berjenjang mulai tingkat pelajar, kadet, junior dan senior yang sudah tergabung dalam tim nasional.
Para atlet yang dipersiapkan ke Hongkong adalah, Vena Aprilia (Jatim), Triwulandari (Sulsel), Muh. Riski (Sumut), Sastra Alaudin (Jatim), M Zaki F (DKI Jakarta), Sandy Firmansyah (Jabar), Gede Rizki (Bali) tampil di nomor kadet.
Sedang yang turun di nomor junior, kata Djafar, terdiri atas Tifany Hadi (Sumut), Srunita Sari (Sumut), Riskiyah Aflaha (Sulsel), Indah Mogia Angkat (Sumut), Syahrul (Sulsel), Angga Laksana (Jatim), Ariski Dwiprasetya (Jateng), Eva Fitria (Jabar), Erlando Stevano (Jambi), Siti Maryam (Jabar), Ayu Rahmawati (Jabar), Andi Dasril (Sulsel), Albiadi (Sulsel) dan Ahmad Dzulfikar (Sulsel).
Para atlet junior dan kadet itu berlatih di perguruan dan daerahnya masing-masing untuk dipersiapkan ke AKF. Sebagai bentuk kerjasama yang baik dengan Pengprov untuk menghasilkan atlet nasional, PB Forki memberi kepercayaan kepada daerah masing-masing untuk mempersiapkan atletnya.
(T.ANT-131/P003)
"Para atlet kadet dan junior yang dipromosikan ke kejuaraan karate level Asia itu dijaring melalui Kejurnas. Dengan begitu prestasi yang dimiliki bisa ditingkatkan ke tingkat Asia," kata Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PB Forki, Djafar E. Djantang, di Jakarta, Sabtu.
Ia mengatakan, meski PB Forki saat ini sedang menempa atlet yang dipersiapkan ke SEA Games dan Asian Games, namun pembinaan lapis bawah tidak boleh berhenti ditengah jalan agar regenerasi berlangsung dengan baik.
Melalui pembinaan berkesinambungan kata Djafar, diharapkan jenjang prestasi yang dimiliki atlet junior dan senior tidak terlalu jauh.
Ia mengakui saat ini level Umar Syarif dengan juniornya cukup jauh, sehingga bila Umar tidak turun dalam pertarungan maka perolehan medali emas akan berkurang di SEA Games.
Djafar mencontohkan ketika Umar cedera dan tidak turun di SEA Games XXIV Thailand 2007 tim karate hanya membawa pulang dua medali emas, padahal di Filipina 2005 menyumbang lima medali emas bagi kontingen Merah Putih.
Atas pertimbangan itulah PB Forki menggalakkan pembinaan atlet berjenjang mulai tingkat pelajar, kadet, junior dan senior yang sudah tergabung dalam tim nasional.
Para atlet yang dipersiapkan ke Hongkong adalah, Vena Aprilia (Jatim), Triwulandari (Sulsel), Muh. Riski (Sumut), Sastra Alaudin (Jatim), M Zaki F (DKI Jakarta), Sandy Firmansyah (Jabar), Gede Rizki (Bali) tampil di nomor kadet.
Sedang yang turun di nomor junior, kata Djafar, terdiri atas Tifany Hadi (Sumut), Srunita Sari (Sumut), Riskiyah Aflaha (Sulsel), Indah Mogia Angkat (Sumut), Syahrul (Sulsel), Angga Laksana (Jatim), Ariski Dwiprasetya (Jateng), Eva Fitria (Jabar), Erlando Stevano (Jambi), Siti Maryam (Jabar), Ayu Rahmawati (Jabar), Andi Dasril (Sulsel), Albiadi (Sulsel) dan Ahmad Dzulfikar (Sulsel).
Para atlet junior dan kadet itu berlatih di perguruan dan daerahnya masing-masing untuk dipersiapkan ke AKF. Sebagai bentuk kerjasama yang baik dengan Pengprov untuk menghasilkan atlet nasional, PB Forki memberi kepercayaan kepada daerah masing-masing untuk mempersiapkan atletnya.
(T.ANT-131/P003)
Label:
International
Senin, 02 Agustus 2010
Asia Pacific Hayashi-Ha Shito Ryu Kai : Indonesia Juara Umum Karate Asia Pasifik
JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia akhirnya keluar sebagai juara umum di kejuaraan karate Asia Pasifik Hayashi-Ha Shito Ryu Kai yang digelar di Volly Hall, Senayan 31 Juli-1 Agustus 2010.
Dari hasil babak final, Minggu (1/8/2010) karateka-karateka Indonesia mampu merebut 14 emas, 20 perak, dan 22 perunggu, disusul oleh Malaysia dengan 13 emas, 10 perak dan 6 perunggu.
Kemudian Iran, 11 emas, 11 perak dan 6 perunggu. Jepang dan Singapura berada di urutan 4 dan lima dengan perolehan Jepang (10 emas, 5 perak, 2 perunggu) dan Singapura (2 perak dan 3 perunggu).
Nyaris tak ada dominasi dalam pertandingan yang diikuti oleh 215 karateka dari lima negara tersebut. Kemampuan karateka hampir rata-rata sama.
Kendati tampil sebagai Juara Umum, namun tim Indonesia gagal merebut emas di nomor bergengsi yakni di Kumite Beregu Putra/Putri. Untuk kelas Kumite Putra, karateka Jepang mampu merebut medali emas, disusul oleh Tim Iran dengan perak dan Tim Indonesia dengan perunggu. Sementara untuk kelas Kumite Putri, karateka-karateka Indonesia mampu ditekuk tim Malaysia, dan tempat ketiga diraih oleh karateka-karateka putri Iran.
"Ajang ini sangat bagus bagi karateka-karateka Indonesia untuk mengasah kemampuan dan keahlian mereka. Saya berharap kejuaraan semacam ini akan terus berlanjut. Saya sendiri bangga sebagai bangsa Indonesia, meski ini kejuaraan karateka internasional pertama namun sudah dapat diikuti oleh 5 negara. Semoga ini menjadi awal yang baik," papar Rita Wibowo, Ketua Umum KONI Pusat.
Pemain Pelatnas
Sementara dari kubu pemain pelatnas, yang semula rencananya menurunkan Sembilan pemain lapis kedua ternyata hanya mampu mendatangkan empat pemainnya saja. Hal ini menurut Ketua Umum Pengurus Besar Federasi Karatedo Indonesia (PB FORKI) Hendardji Soepandji disebabkan mereka semua saat ini masih berada di daerah masing-masing.
"Yang turun hanya empat orang, karena yang lain sudah kembali ke daerah masing-masing selepas seleknas lalu. Beberapa diantaranya juga masih mengalami cedera," ungkap Hendardji, di sela penutupan acara, Minggu (1/8/2010).
Empat dari pemain pelatnas tersebut berhasil menorehkan prestasi yang cukup menggembirakan dengan dua medali emas, satu medali perak dan sattu medali perunggu. Tiga medali diantaranya diperoleh Cristo Mondolo (emas), Yulizar (perak) dan Martinel (perunggu). Melihat pencapaian ini, Hendardji mengaku puas dan cukup menghargai jerih payah pemain pelatnas.
"Saya rasa ini sudah cukup lumayan, mengingat mereka semua berhasil mendapat medali. Minggu ini ada ada seleknas dan kompetisi ini. Buat saya prestasi ini sangat bagus karena tidak mudah bertarung di dua kompetisi besar dalam pekan yang sama," tuturnya.
Dari hasil babak final, Minggu (1/8/2010) karateka-karateka Indonesia mampu merebut 14 emas, 20 perak, dan 22 perunggu, disusul oleh Malaysia dengan 13 emas, 10 perak dan 6 perunggu.
Kemudian Iran, 11 emas, 11 perak dan 6 perunggu. Jepang dan Singapura berada di urutan 4 dan lima dengan perolehan Jepang (10 emas, 5 perak, 2 perunggu) dan Singapura (2 perak dan 3 perunggu).
Nyaris tak ada dominasi dalam pertandingan yang diikuti oleh 215 karateka dari lima negara tersebut. Kemampuan karateka hampir rata-rata sama.
Kendati tampil sebagai Juara Umum, namun tim Indonesia gagal merebut emas di nomor bergengsi yakni di Kumite Beregu Putra/Putri. Untuk kelas Kumite Putra, karateka Jepang mampu merebut medali emas, disusul oleh Tim Iran dengan perak dan Tim Indonesia dengan perunggu. Sementara untuk kelas Kumite Putri, karateka-karateka Indonesia mampu ditekuk tim Malaysia, dan tempat ketiga diraih oleh karateka-karateka putri Iran.
"Ajang ini sangat bagus bagi karateka-karateka Indonesia untuk mengasah kemampuan dan keahlian mereka. Saya berharap kejuaraan semacam ini akan terus berlanjut. Saya sendiri bangga sebagai bangsa Indonesia, meski ini kejuaraan karateka internasional pertama namun sudah dapat diikuti oleh 5 negara. Semoga ini menjadi awal yang baik," papar Rita Wibowo, Ketua Umum KONI Pusat.
Pemain Pelatnas
Sementara dari kubu pemain pelatnas, yang semula rencananya menurunkan Sembilan pemain lapis kedua ternyata hanya mampu mendatangkan empat pemainnya saja. Hal ini menurut Ketua Umum Pengurus Besar Federasi Karatedo Indonesia (PB FORKI) Hendardji Soepandji disebabkan mereka semua saat ini masih berada di daerah masing-masing.
"Yang turun hanya empat orang, karena yang lain sudah kembali ke daerah masing-masing selepas seleknas lalu. Beberapa diantaranya juga masih mengalami cedera," ungkap Hendardji, di sela penutupan acara, Minggu (1/8/2010).
Empat dari pemain pelatnas tersebut berhasil menorehkan prestasi yang cukup menggembirakan dengan dua medali emas, satu medali perak dan sattu medali perunggu. Tiga medali diantaranya diperoleh Cristo Mondolo (emas), Yulizar (perak) dan Martinel (perunggu). Melihat pencapaian ini, Hendardji mengaku puas dan cukup menghargai jerih payah pemain pelatnas.
"Saya rasa ini sudah cukup lumayan, mengingat mereka semua berhasil mendapat medali. Minggu ini ada ada seleknas dan kompetisi ini. Buat saya prestasi ini sangat bagus karena tidak mudah bertarung di dua kompetisi besar dalam pekan yang sama," tuturnya.
Label:
International
Senin, 28 Juni 2010
Kejurnas Mendagri : DKI Jakarta Juara Umum Kejurnas Karate Junior
TEMPO Interaktif, Makassar - Tuan rumah Sulawesi Selatan gagal mencapai target menjadi juara umum Kejuaraan Nasional Karate Junior memperebutkan piala Mendagri XIV dan Mendiknas III, Tim Sulawesi Selatan mampu meraih posisi kedua. Juara umum diraih tim DKI Jakarta.
DKI Jakarta berhasil mengumpulkan 11 emas, 6 perak dan 12 Perunggu, sementara Sulawesi Selatan hanya 9 emas, 6 perak dan 6 perunggu. Ditempat ketiga ditempati Perguruan Inkai dengan 8 emas, 12 perak dan 16 perunggu. Sementara karateka terbaik di kelas Cadet putri yang berhak mendapatkan piala bergilir Mendagri XIV diperoleh Aprilia, asal Jawa Timur, dan kelas putra Sandy Firmansyah dari Jawa Barat.
Untuk piala Mendiknas III, di bagian putri diraih karateka asal Sumatera Utara atas nama Tiffany Hadi, dan putra diraih oleh Maruli J L ButarButar, dari perguruan KKI. Mereka ini turun di kelas Junior.
Ketua Kontingen Atlet Sulawesi Selatan Ellong Chandra mengatakan apa yang dicapai oleh para atletnya sudah membanggakan, meski gagal meraih juara umum. Pasalnya pada kejuraan yang sama di Lampung tahun lalu, Sulawesi Selatan hanya menempati urutan keempat.
“Ini membuktikan ada peningkatan. Kami tidak gagal kok, hanya saja DKI lebih banyak membawa atletnya dibanding dengan kami, hanya 78 orang saja. Kedepan kami akan lebih menggodok dan melakukan evaluasi,” kata dia di sela penutupan kejurnas, Sabtu (26/6).
Ketua Umum PB Forki, Mayor Jendral TNI Purnawirawan, Endarji Soepandji mengatakan, bagi karateka yang masuk sepuluh besar di kelas usia dini, sesuai janji Menteri Pemuda dan Olahraga akan dimasukkan ke Pendidikan Latihan dan Pelajar (PPLP). Kemudian karateka usia 14-15 tahun akan masuk Program Indonesia Emas. Begitu pula Juara 1 di kelas Cadet akan masuk Pelatnas pada 4 Juli mendatang untuk dipersipakan mengikuti kejuaraan Karate Asia Junior yang akan digelar di Hongkong. Sedangkan dibawah usia 21 tahun akan kirim ke Jakarta untuk dipersiapakan pada kejuaraan internasional seperti Seagames dan Asian Games.
“Saya berharap para atlet yang juara ini jangan sombong. Teruslah berlatih karena masih banyak yang harus dilalui,” katanya.
Ketua PB Forki Sulawesi Selatan sekaligus Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo tidak menginginkan olahraga karate tidak memiliki regenerasi yang baik. “Tugas kita kedepan mempersipakan sejak dini karena kami sadar negara lain pun melakukan yang sama,” kata dia.
ARDIANSYAH RAZAK BAKRI
DKI Jakarta berhasil mengumpulkan 11 emas, 6 perak dan 12 Perunggu, sementara Sulawesi Selatan hanya 9 emas, 6 perak dan 6 perunggu. Ditempat ketiga ditempati Perguruan Inkai dengan 8 emas, 12 perak dan 16 perunggu. Sementara karateka terbaik di kelas Cadet putri yang berhak mendapatkan piala bergilir Mendagri XIV diperoleh Aprilia, asal Jawa Timur, dan kelas putra Sandy Firmansyah dari Jawa Barat.
Untuk piala Mendiknas III, di bagian putri diraih karateka asal Sumatera Utara atas nama Tiffany Hadi, dan putra diraih oleh Maruli J L ButarButar, dari perguruan KKI. Mereka ini turun di kelas Junior.
Ketua Kontingen Atlet Sulawesi Selatan Ellong Chandra mengatakan apa yang dicapai oleh para atletnya sudah membanggakan, meski gagal meraih juara umum. Pasalnya pada kejuraan yang sama di Lampung tahun lalu, Sulawesi Selatan hanya menempati urutan keempat.
“Ini membuktikan ada peningkatan. Kami tidak gagal kok, hanya saja DKI lebih banyak membawa atletnya dibanding dengan kami, hanya 78 orang saja. Kedepan kami akan lebih menggodok dan melakukan evaluasi,” kata dia di sela penutupan kejurnas, Sabtu (26/6).
Ketua Umum PB Forki, Mayor Jendral TNI Purnawirawan, Endarji Soepandji mengatakan, bagi karateka yang masuk sepuluh besar di kelas usia dini, sesuai janji Menteri Pemuda dan Olahraga akan dimasukkan ke Pendidikan Latihan dan Pelajar (PPLP). Kemudian karateka usia 14-15 tahun akan masuk Program Indonesia Emas. Begitu pula Juara 1 di kelas Cadet akan masuk Pelatnas pada 4 Juli mendatang untuk dipersipakan mengikuti kejuaraan Karate Asia Junior yang akan digelar di Hongkong. Sedangkan dibawah usia 21 tahun akan kirim ke Jakarta untuk dipersiapakan pada kejuaraan internasional seperti Seagames dan Asian Games.
“Saya berharap para atlet yang juara ini jangan sombong. Teruslah berlatih karena masih banyak yang harus dilalui,” katanya.
Ketua PB Forki Sulawesi Selatan sekaligus Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo tidak menginginkan olahraga karate tidak memiliki regenerasi yang baik. “Tugas kita kedepan mempersipakan sejak dini karena kami sadar negara lain pun melakukan yang sama,” kata dia.
ARDIANSYAH RAZAK BAKRI
Label:
Nasional
Langgan:
Entri (Atom)